Arsip Kategori: Peternakan

Pelepasan Calon Pengusaha Sapi – Komunitas Bangun Mandiri

Wisuda KBM Sapi

Komunitas Bangun Mandiri (KBM) sebuah program yang membekali para pemuda yatim ketrampilan bisnis yang digagas oleh Mandiri Enterpreneur Center Yayasan Yatim Mandiri dengan dukungan konsultasi dari PEACBromo secara resmi telah mencetak 13 calon wirausaha peternakan sapi.

Pelepasan calon wirausaha ditandai dengan acara wisuda setelah mereka selama 10 bulan mengikuti program ini. Bertempat dibalai desa Branbowan kecamatan Ngasem Bojonegoro (22/12/2011)  sebanyak seratus undangan hadir baik dari instansi pemerintah, dinsos, NGO hingga undangan dari MCL perusahaan koorporasi ekplorasi minyak blok cepu. Para undangan menyimak acara yang dirangkai dengan presentasi bisnis dari peserta terbaik yakni Suminto dan Hamdan Habibi.

Dalam presentasinya, Suminto, peserta terbaik mengatakan, dirinya bersama anggota kelompoknya telah mendapatkan ketrampilan bisnis penggemukan sapi serta akses pemasaran baik pasar hewan local, maupun pasar Jakarta, sehingga dirinya siap untuk mengelola sapi dari invetor, ujarnya.

Hal senada dikatakan Hamdan Habibi, peserta terbaik kedua, yang telah menyiapkan kandang dengan kapasitas 20 ekor di Malo Bojonegoro, yang akan dikelola bersama rekan-rekan alumni KBM dengan system bagi hasil kepada calon investor.

Program KBM ini sendiri telah membekali pesertra ketrampilan bisnis penggemukan sapi yang meliputi pemilihan bakalan, manajemen kandang, pembuatan pakan,kesehatan hewan hingga pembuatan kompos. Peserta sendiri telah praktek secara langsung penggemukan sapi dan pemeliharaan sapi dari investor dengan total 16 ekor sapi yang keuntungannya mencapai lebih dari sepuluh juta.

Seminar Wirausaha “Sukses Berternak Sapi”

Yayasan Yatim Mandiri  melalui unit Mandiri Enterpreneur Center bekerjasama dengan PEAC Bromo sebuah lembaga pendampingan dan pengembangan bisnis yang memiliki kemampuan dan kapasitas dalam pelatihan dan pendampingan kewirausahaan,  mendorong pelaksanaan program pengembangan ketrampilan berwirausaha khususnya pada usaha peternakan sapi untuk anak yatim.

Diharapkan hasil pelaksanaan program dapat memberikan nilai tambah yang cukup bagi anak yatim untuk mandiri dalam penghidupannya melalui kemampuan berwirausaha penggemukan sapi.

Sebagai langkah nyata, Seminar motivasi kewirausahaan menjadi langkah awal sosialisasi pelaksanaan program kepada stake holder terkait yaitu Pemerintah Kabupaten, Panti asuhan, Pondok Pesantren dan orsos Islam. Dengan demikian, diharapkan seminar tersebut dapat menjadi input awal kepada calon peserta program untuk memantapkan niat dan tujuannya dalam berwirausaha.

 

Seminar Kewirausahaan Direktori Usaha Peternakan Sapi – Komunitas Bangun Mandiri Bojonegoro,yang di selenggarakan pada tanggal 24 Pebruari 2011 bertujuan untuk  sosialisasi  pelaksanaan program Komunitas Bangun Mandiri, Kewirausahaan sector sapi, dan tergalinya bakat dan potensi peserta melalui proses tanya jawab selama sesi seminar.

“Di sebagian masyarakat, anak yatim kerap mempunyai imej harus dikasihani / disantuni. Melalui program ini kami berharap kegiatan ini dapat memberikan motivasi berwirausaha dikalangan pemuda yatim sehingga yatim dapat menjadi calon wirausaha penggemukan sapi.  Dengan dukungan dari donatur yatim mandiri, kami menawarkan alternatif dengan memberikan pelatihan teknis penggemukan sapi, pelatihan entrepreneur, start up bisnis dan bantuan permodalan agar setelah program anak yatim tersebut dapat mandiri ” jelas Prasetyo selaku Area Manager Program.

Seminar kewirausahaan ini adalah langkah awal sosialisasi program Komunitas Bangun Mandiri sektor sapi, Melalui program ini, diharapkan dapat menciptakan + 35 wirausaha peternakan sapi dalam satu periode pelaksanaan program. Periode program berlangsung selama 10 (sepuluh) bulan.

 

Daya Saing Usaha Penggemukan Sapi Tinggi

Usaha penggemukan sapi di Indonesia memiliki daya saing tinggi dibandingkan dengan Australia. Selain lebih murah, berat badan sapi bakalan yang digemukkan di Indonesia juga tumbuh lebih cepat. Biaya produksi penggemukan sapi di Indonesia lebih murah dan lebih cepat dibandingkan Australia. Biaya produksi penggemukan sapi dari berat awal maksimal 350 kilogram per ekor menjadi 500 kg atau mencapai berat sapi siap potong hanya Rp 15.000-Rp 17.000 per ekor per hari. Bandingkan dengan di Australia yang mencapai Rp 23.000 per ekor per hari.

Untuk mencapai beras sapi ideal siap potong 450-500 kg butuh waktu 120 hari. Dengan begitu, untuk mendapatkan tambahan berat sapi sekitar 150 kg dalam waktu 120 hari butuh biaya produksi Rp 1,9 juta per ekor.

Kondisi sebaliknya terjadi pada usaha pembibitan sapi dan penyediaan bibit sapi bakalan. Dalam usaha pembibitan dan pembesaran hingga sapi bakalan, Indonesia kalah kompetitif dibandingkan dengan Australia.

Untuk menghasilkan sapi bakalan dengan berat maksimal 350 kg per ekor di Indonesia, dibutuhkan tambahan biaya produksi Rp 6,5 juta dibandingkan Australia. Di Australia, sapi begitu lahir dilepas. Di sini tidak bisa. Sapi harus dikandangkan dengan pola intensif.

Tambahan biaya Rp 6,5 juta per ekor baru menghitung biaya pakan. Belum tenaga kerja. Saking mahalnya biaya pembibitan sapi di Indonesia,  untuk menghasilkan pedet—anak sapi—dengan harga jual Rp 3,5 juta per ekor, butuh modal produksi hingga Rp 7 juta.

Meski usaha peternakan sapi di luar penggemukan kalah intensif, masih ada peluang bagi Indonesia untuk menandingi Australia, yaitu dengan memanfaatkan lahan perkebunan sawit atau karet untuk area penggembalaan sapi.

Usaha penggemukan sapi di Indonesia potensial. Tahun 2010 kebutuhan daging sapi nasional mencapai 496.780 ton, setara Rp 29,8 triliun, dengan asumsi harga per kg daging Rp 60.000. Potensi peningkatan konsumsi daging sapi besar karena pada 2011 diproyeksikan konsumsi per kapita daging sapi Indonesia baru 2,10 kg per tahun.

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 119 pengikut lainnya.