Jangan seperti Petani Padi, Tetap Miskin

Perum Bulog segera masuk bisnis tepung cassava, setelah menandatangani kerja sama dengan dua pabrikan besar terigu PT Sriboga Raturaya dan PT Nectar Agro Nusantara, awal pekan ini.

Untuk mengetahui pendapat kalangan produsen skala kecil tepung berbahan singkong, Bisnis mewawancarai Ketua Umum Gabungan Koperasi Tepung Rakyat Indonesia (Gakoptri) Samsul Hadi, berikut petikannya;

Apa pendapat Anda terhadap kerja sama Bulog itu?

Peran Bulog dalam bisnis tepung cassava hendaknya didasarkan pada dua hal. Pertama, mendorong keterkaitan agrobisnis singkong (hulu) dengan industri tepung dan industri makanan. Kedua, pengembangan itu didasarkan pada strategi penguatan usaha rakyat agar bisa bersaing dengan usaha besar dan asing.

Singkong saat panen pasti jatuh harganya. Nah, tepung cassava, khususnya modified cassava flour atau mocal, punya kelebihan dalam prosesnya, yakni memberi kesempatan kepada petani untuk mengubah singkong basah menjadi chip kering, di dalamnya termasuk proses fermentasi.

Chip itulah yang mestinya bisa dikerjakan di tingkat petani/ koperasi, karena bisa tahan berbulan-bulan sampai tahunan. Artinya, kalau saat harga singkong jeblok, simpan saja dalam bentuk chip mocal. Nah, Bulog seharusnya bisa membeli chip dari petani ini, jangan hanya dalam bentuk tepung cassava, karena petani dan industri kecil terbatas kemampuannya memproduksi tepung.

Dengan demikian ada nilai tambah di tingkat petani, yang bekerja mengubah singkong basah menjadi chip. Buloglah yang menjaga agar harga chip wajar/ tidak dimainkan tengkulak atau pabrikan tepung cassava.

Harap maklum, daya tahan petani menyimpan chip singkong pasti terbatas. Dia pasti butuh uang. Nah, model resi gudang bisa masuk, tetapi harus disederhanakan, karena petani pasti susah pakai model resi gudang seperti yang ada sekarang.

Kenapa yang digandeng bukan Gakoptri?

Ha ha ha… Mereka [Sriboga dan Nectar] belum ada yang memproduksi tepung mocal. Itu cuma di atas kertas. Kalau toh, memproduksi, seperti Sriboga Semarang, itu baru tahap uji coba. Barangkali Bulog belum pede [percaya diri] kalau berurusan dengan koperasi.

Di internal Bulog memang belum solid, belum ada kelembagaan khusus yang mengurusi bisnis tepung cassava. Itu PR [pekerjaan rumah] pertama yang harus mereka kerjakan. Dua bulan lalu saya dan komunitas tepung mocal plus industri pangan yang siap menggunakan mocal mengadakan diskusi di kantor Bulog lt 10. Rekomendasi dari pertemuan itu sudah disampaikan ke Pak Dirut [Mustafa Abubakar]. Tetapi gak direwes [diperhatikan]. Justru setelah Dirut ke Roma terkait dengan pengembangan pangan alternatif, dan bertemu dengan orang Afrika, Pak Mustafa baru sadar tentang besarnya potensi cassava.

Salah satu titik tekan yang diharapkan Gakoptri adalah apabila Bulog masuk ke bisnis cassava, yang pertama harus mendapat keuntungan adalah petani. Jangan sampai industri menekan harga beli singkong petani di bawah Rp400 per kg.

Mocal punya potensi ke sana, karena harga jualnya bisa didorong mendekati tepung terigu, dan pasti di atas tepung tapioka. PR-nya, bagaimana membagi spread itu agar bagian terbesar-nya dinikmati petani. Jangan seperti petani padi, tetap miskin.

Bagaimana roadmap mocal?

Versi Gakoptri, pada 2011 tepung lokal bisa menyubstitusi 10% terigu impor. Kira-kira 500.000 ton per tahun. Tetapi ini harus dilakukan melalui dukungan pemerintah. Target itu mestinya tidak hanya dipenuhi dari mocal. Ada banyak macam tepung cassava, baik yang modifikasi maupun yang tidak, yang bisa menjadi substitusi terigu, walaupun dengan kadar yang berbeda-beda.

Produksi mocal saat ini?

Khusus untuk mocal, saat ini produksi riil masih di bawah 10.000 ton per tahun. Coba bandingkan, ada satu pabrik tapioka di Lampung, kapasitas produksinya 200 ton tapioka per per hari. Anggap saja pabik itu bekerja 300 hari setahun, artinya 1 pabrik itu saja menghasilkan 60.000 ton.

Artinya, porsi produksi mocal dibandingkan dengan tepung cassava lainnya, masih sangat kecil. Walaupun sebenarnya perbandingan itu tidak fair, karena sebagian besar produk cassava untuk keperluan lem industri plywood, sebagian untuk konsumsi pakan ternak, sedangkan mocal diarahkan untuk food ingredient. Di sini tampak butuh insentif guna mendorong industri baru sebanyak-banyaknya untuk masuk ke produksi tepung mocal.

Cassava itu luas. Mocal hanyalah salah satunya. Pada dasarnya singkong yang dikupas, dijemur kering, lalu di giling menjadi tepung, itu namanya tepung cassava, dan bisa untuk substitusi terigu, walaupun dengan kualitas dan aplikasi yang terbatas pula.

Bila itu yang jadi pilihan, ide menyejahterakan petani dan industri kecil tidak akan terwujud, justru dengan mocal, ada proses fermentasi di tingkat petani/ koperasi. Itulah nilai tambah yang diharapkan bisa terwujud dari proses mocal.

Sebaran produsen mocal?

Pabrik skala kecil sudah jalan di Lampung, Jabar, Jateng, dan Jatim. Tahun ini sosialisasi diperluas ke Sumbar, Sulsel, Sumut, dan NAD. Strateginya mendorong industri kecil lokal di bidang makanan agar menyubstitusinya dengan tepung mocal produsi lokal pula.

Pewawancara : Moh. Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia

About Samsul Hadi

Penggiat UKM

Posted on 15 Mei 2009, in cassava, gakoptri, mocal and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Ya, ntar ada lagi yang namanya BUPER SINGKONG. Bisa tambah runyam hatiku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: