Monthly Archives: Oktober 2009

Estafet Kepemimpinan, Aksi Konkret di Hari Pemuda

Saat kita yakin bahwa masa depan negara ini ada di tangan pemuda, maka sudah seharusnya pulalah kita melakukan tindakan nyata untuk mewujudkannya.

Dan, kontribusi saya terhadap upaya mendorong munculnya peran pemuda saat ini adalah suksesi kepemimpinan di Asosiasi BDS Indonesia ke tangan yang lebih muda. tanggal 26 oktober 2009 melalui munas ABDSI di solo, saya telah menunaikan tugas sebagai ketua umum asosiasi periode 2005-2009. melalui proses persidangan panjang dan lama, akhirnya terpilihlah pengganti saya, pak Zaenal Arifin dari BDS Mitra Semarang.

Muda, energik, mobilitas tinggi, dan punya jaringan kerja yang luas, adalah modal awal yang dimiliki pak Zaenal. Saya menyerahkan tongkat kepemimpinan kepadanya dengan penuh rasa suka cita dan optimistik. saya yakin, amanat yang dipegang pak Zaenal akan ditunaikan dengan baik. hal itu didukung oleh fakta, bahwa terpilihnya pak zaenal melalui proses musyawarah mukat secara aklamasi. tidak ada voting, tidak ada “pertempuran” yang mengakibatkan luka dan dendam. Juga, dewan penasehat (Dr Noer Soetrisno) memberi dukungan penuh terhadap terpilihnya pak Zaenal ini.

Nah, tinggal saya yang harus mulai belajar dengan peran yang baru, dan tentu saja berbeda, di dalam komunitas BDS ini. ini juga sebuah tantangan, manakala kita harus lebih lapang dada, lebih banyak mendengar, lebih banyak mengamati, dan lebih banyak berada di belakang layar. Dengan kemauan keras dan tekad membaca, Insya Allah fase ini akan bisa saya lalui dengan baik.

Selamat datang pemuda. Larilah kencang, sekencang-kencangnya. Tarik Gerbong pembangunan bangsa dengan keringat dan darah. gunakan akal sehat dan kecerdasan untuk hadapi persaingan. jadilah pemenang.

Iklan

Sumpah Pemuda, Perlu Dimaknai Kembali

Sumpah yang diucapkan para pemuda 81 tahun lalu, secara faktual sudah terealisasi. Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu bahasa, Alhamdulillah semuanya telah kita rasakan saat ini.

Namun demikian, mimpi negara kesatuan yang akan memakmurkan dan mensejahterakan rakyatnya, tampaknya masih jauh dari harapan. Begitu banyak problem ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan, dan yang lainnya, melekat erat dala kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia. Mengurai semua masalah itu tidaklah mudah dan sederhana, dikarenakan kompleksitas dan volume masalah yang terlanjur besar dan masif.

Adakah harapan untuk hari esok yang lebih baik? ada, dan wajib ada. harapan itulah yang menjadi “guide” untuk berpikir cerdas, visioner dan kreatif. dan, 3 hal itu hanya bisa kita harapkan muncul dari kalangan muda. Mengapa demikian? sebagian besar generasi tua negeri ini sudah terbelenggu kepentingan sempit kelompok maupun golongan. Jiwa nasionalisme terkalahkan oleh kepentingan sesaat.

Sumpah Pemuda kali ini sudah semestinya menjadi sarana pengingat bagi para kaum muda untuk sadar dan memiliki kepedulian atas masalah bangsa, dan tampil di depan mencari solusi kebangsaan, demi terwujudnya masyarakat makmur, sejahtera, dan berkeadilan.