Monthly Archives: Agustus 2010

Pembiayaan UMKM Perlu Diiringi Pendampingan

Program pembiayaan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang bersifat subsidi harus satu paket dengan pendampingan usaha secara berkelanjutan untuk menciptakan kemandirian pelaku usahanya, sehingga dana yang digulirkan terus berkembang.

Beberapa program pembiayaan UKM yang bersifat subsidi seperti program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM), lembaga pengelola dana bergulir (LPDB) dan kredit usaha rakyat (KUR) yang bersubsidi penjaminan, belum diiringi dengan kegiatan pendampingan bagi UKM penerima dana tersebut.

Pemberian pendampingan bagi UKM seharusnya menjadi satu paket dengan program pembiayaan agar dana yang digulirkan tidak habis di tengah jalan akibat pembiaran terhadap keberlangsungan usaha UKM.

Pemerintah tidak pernah menganggarkan dana rutin yang khusus dialokasikan untuk program pendampingan bagi UMKM, dan kalaupun ada itu baru sebatas proyek yang bersifat insidental tanpa ada kelanjutannya.

Iklan

Perth, Modern karena Tambang

(Beberapa tahun lalu saya pernah tinggal di Perth. dan kini, ibukota negara bagian Western Australia ini telah berubah menjadi kota modern. Tulisan Anastasia yang dimuat di harian Kompas kiranya telah membuka kembali kenangan lama atas kota Perth yang sangat indah.)

Perth, Modern karena Tambang

Perth, Modern karena Tambang

Perth tadinya merupakan ibu kota dari negara bagian yang paling terisolasi di Australia. Kini, berkat industri pertambangan yang maju pesat, Perth dapat menjadi kota modern. Angkasa Perth dipenuhi oleh menara-menara pencakar langit dari baja dan kaca. 

Perth telah menemukan dirinya kembali sebagai kota yang makmur karena booming pertambangan di wilayah tersebut. Perth sempat menjadi kota tidak berkembang selama beberapa generasi. Tetapi, belakangan ini stigma tersebut berubah seiring dengan banyaknya gedung tinggi di seantero kota serta jalan-jalan lebar yang memiliki atmosfer metropolis lengkap dengan toko barang mewah, bar, dan restoran. Itulah hasil dari penjualan bijih besi ke Asia, salah satu kawasan pasar terbesar hasil tambang Perth.

”Perth belum pernah mengalami pembangunan sedemikian pesat dalam 20 tahun belakangan ini,” ujar Dewan Properti Australia Barat Damian Stone. ”Perkembangan di Perth sangat dramatis, mencerminkan bagaimana kota yang dinamis ini bertumbuh. Kami sekarang merupakan salah satu kota kelas dunia. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, timbul kepercayaan bahwa kami juga harus berperan dalam pembentukan negara kami,” ujarnya lagi.

Pertambangan merupakan penggerak penting pembangunan di Australia. Wali Kota Perth Lisa Scaffidi yakin bahwa transformasi kota itu tidak terlepas dari sejumlah perusahaan yang secara besar-besaran memperluas dan memperbesar kehadiran mereka di kota tersebut. Dampaknya, pembangunan yang harus dicapai selama 20 tahun ternyata dapat diraih hanya dalam 4 tahun.

”Perth saat ini merupakan kota global yang penting,” kata Wali Kota. Perth juga telah menjadi kota pertambangan. Pada puncak kebangkitan pertambangan di tahun 2007, gaji di Perth naik pesat dengan rata-rata mencapai 69.000 dollar AS. Kenaikan tersebut 70 persen disumbangkan dari kegiatan yang terkait dengan pertambangan.

Saat ini, 20 persen ruang perkantoran di Perth disewa oleh empat perusahaan besar, yaitu raksasa pertambangan BHP Billiton dan Rio Tinto serta produsen minyak dan gas Chevron dan Woodside Petrolium. Semuanya merupakan pemain penting dalam industri sumber daya alam di Australia.

Gedung perkantoran yang menjadi pusat perhatian adalah kantor pusat operasi Australia BHP yang berlantai 46. Gedung itu saat ini masih dalam tahap pembangunan di tengah kawasan bisnis Perth yang sibuk.

Perusahaan pertambangan bijih besi terbesar di dunia itu akan menempati kantor seluas 60.000 meter persegi. Gedung itu juga akan menjadi gedung tertinggi di Perth dengan ketinggian 249 meter. Diharapkan gedung ini akan dapat diselesaikan pada tahun 2012.

Ketika kompleks perkantoran BHP City Square masih dalam tahap pembangunan, ada keyakinan bahwa pembangunan tersebut akan memberikan inspirasi beberapa proyek properti komersial dan ritel seperti toko-toko. Sebelumnya, toko barang mewah tidak dapat ditemukan di jalan-jalan kota Perth. Perkembangan lain adalah semakin menjamurnya bar-bar dan tempat-tempat makan jalan-jalan Perth dalam dua tahun terakhir ini.

Imigran

Juru masak Wayne Willsher membuka restoran Olivernya di kawasan hiburan Northbrigde pada tahun 2008. Willsher adalah imigran dari Essex, Inggris, yang mencoba peruntungan di Perth. ”Saya sebenarnya datang ke sini tidak untuk kaitan bisnis. Tetapi, saya mendapatkan ada jurang di pasar antara restoran yang berada di atas standar Perth. Ini yang belum ada. Mungkin karena peluang inilah saya dapat meraup sukses di sini,” ujarnya.

Meledaknya industri pertambangan di Perth juga memengaruhi berbagai jenis bisnis lain di Perth. Asosiasi Pedagang Ritel Wayne Spencer mengatakan, ”Australia Barat sangat menyadari bahwa industri pertambangan telah mendorong perkembangan negara bagian ini,” katanya. ”Tidak peduli apa jenis pekerjaan Anda, akan terpengaruh oleh industri pertambangan,” katanya lagi.

Populasi Australia Barat naik sebanyak 400.000 orang pada satu dekade terakhir sehingga penduduknya menjadi 2,27 juta orang, tetapi kawasan tersebut juga terus menarik perhatian dari para imigran. Diharapkan, para imigran ini dapat memenuhi pasar tenaga kerja di Australia Barat.

Ekonom dari Kamar Dagang dan Industri John Nicolau mengatakan, upaya untuk membatasi datangnya imigran akan menjadi masalah di negara bagian tersebut di kemudian hari. ”Pada dekade terakhir, porsi ekspor dari Australia Barat naik menjadi 45 persen. Australia Barat adalah pusat pembangunan ekonomi Australia dan inilah saatnya para pengambil keputusan di Canberra untuk memahami hal tersebut,” ujarnya.

Keberpihakan Jadi Kata Kunci

(Bukan UKM bila tidak dibelit masalah. mungkin jargon itu masih pas untuk menggambarkan kompleksitas masalah yang dihadapi UKM. Tulisan Elly Roosita di harian Kompas perlu kita simak, untuk lebih memahami kondisi teraktual UKM di tanah air.)

Ketika krisis ekonomi melanda negeri ini pada 2007, banyak perusahaan besar yang ambruk karena landasannya rapuh. Mereka tergantung pada bahan baku impor dan bisa menggurita karena berutang. Mereka menjadi jago kandang karena pasar domestik di proteksi oleh pemerintah. Dan, saat semua itu dicabut, ”kelimpunganlah” mereka. 

Di saat itulah kesadaran akan keberadaan dan ketangguhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tumbuh. Negeri ini terhindar dari keterpurukan lebih dalam karena topangan UMKM, selain kegiatan ekonomi yang berbasis sumber daya alam. Pemberdayaan UMKM menjadi jargon politik paling populer.

Pemerintah jadi ”rajin” menyapa UMKM. Setidaknya mulai dari tahun 2005 hingga kini telah diterbitkan 13 peraturan perundang-undangan terkait UMKM. Apakah berbagai peraturan perundang-undangan itu cukup membuat UMKM berdaya dan semakin kuat?

Kenyataannya, dinamika usaha kecil dan sektor informal kian meredup. Berbagai impitan semakin menjepit mereka, mulai dari harga bahan baku yang melambung, biaya yang meroket, seperti tarif listrik, transportasi, dan biaya lain, baik yang resmi maupun tak resmi.

Contohnya pelaku usaha mikro sektor perdagangan, sekadar buat menggelar dagangan pun tak lagi ada tempat. Demi alasan keindahan kota, mereka tergusur, tanpa diberi alternatif. Sementara ratusan ribu hektar lahan dikuasai dengan mudah oleh para konglomerat, baik untuk perkebunan, usaha kehutanan, pertambangan, atau properti.

Pasar UMKM pun kian terkikis oleh masuknya produk impor, baik legal maupun ilegal. UMKM di sektor garmen, misalnya, kini tak hanya menghadapi kenaikan ongkos produksi akibat kenaikan tarif dasar listrik dan dampak ikutannya, tetapi juga serbuan garmen impor yang harganya jauh lebih murah.

Di lain pihak, daya beli masyarakat, terutama mereka yang berpenghasilan rendah, kian merosot. Pada 2007, dari tiga jenis sektor informal, hanya upah riil buruh bangunan yang meningkat, itu pun hanya 0,75 persen dibandingkan dengan tahun 2006. Adapun upah riil petani dan pekerja sektor informal lainnya merosot. Padahal, kelompok ini konsumen utama produk usaha mikro dan kecil.

Apabila usaha besar relatif mudah memperluas pasar karena memiliki akses informasi pasar, tidak demikian halnya dengan UMKM. Keterbatasan sumber daya membuat usaha mikro dan kecil berorientasi ke pasar domestik. Jika pasar domestik tergerus, kelompok inilah yang paling merasakannya.

Pemberdayaan

Selama ini, hampir semua lembaga yang melakukan pemberdayaan UMKM berpendapat permodalan jadi masalah utama. Pemerintah pun sejak tahun 2007 menjadikan permodalan sebagai cara untuk ”menyentuh” UMKM melalui kredit usaha rakyat (KUR). Modal memang penting, tetapi bukan satu-satunya yang diperlukan dalam pemberdayaan UMKM.

”Sentuhan” kepada UMKM seharusnya dilandasi pemahaman yang utuh tentang sosok UMKM. Data Kementerian Urusan Koperasi dan UKM menyebutkan, tahun 2009 terdapat 51,26 juta UMKM atau 99,91 persen dari seluruh unit usaha di Indonesia, Dari jumlah UMKM itu, 98,9 persen atau 50,7 juta di antaranya usaha mikro, yang didefinisikan sebagai usaha dengan aset bersih kurang dari Rp 50 juta dan hasil penjualan kurang dari Rp 300 juta per tahun. Sisanya, sebanyak 520.200 usaha kecil dengan aset bersih Rp 50 juta-Rp 500 juta dan penjualan per tahun lebih dari Rp 300 juta-Rp 2,5 miliar, serta 39.700 usaha menengah (aset lebih dari Rp 500 juta-Rp 10 miliar, penjualan per tahun lebih dari Rp 2,5 miliar-Rp 50 miliar). Usaha besar jumlahnya hanya 4.370 unit atau 0,01 persen dari seluruh unit usaha di negeri ini.

Jika penduduk Indonesia sekitar 250 juta jiwa, lebih dari 20 persen adalah pelaku UMKM. Dan, apabila setiap keluarga rata-rata beranggotakan empat orang, sudah lebih dari 82 persen penduduk yang kehidupannya ditopang UMKM. Apakah angka-angka itu realistis?

Dari struktur aset saja, jelas tak mungkin memperhadapkan UMKM dengan usaha besar. Apalagi membiarkan berkompetisi secara ”alamiah” di arena yang sama. ”Pertarungan” tak akan seimbang, ibarat petinju kelas berat berhadapan dengan kelas bulu.

Namun, ”pertarungan” tak ”elok” itu terjadi. Di sektor perdagangan ritel, misalnya, pedagang kecil di pasar tradisional harus berhadapan dengan menjamurnya minimarket, supermarket, hingga hipermarket. Meski sudah ada aturan, seperti jam operasi, faktanya dengan berbagai dalih, ritel modern bisa beroperasi di luar jam yang telah ditetapkan.

Di sektor usaha batik, kompetisi tak seimbang juga terjadi. Di Cirebon, misalnya, pengusaha batik skala rumahan harus rela hanya menerima order dari pengusaha besar jika tak ingin gulung tikar. Ini karena pembatik di sana telah direkrut pengusaha besar sehingga usaha batik skala rumahan sulit mencari pekerja.

Di sisi pembiayaan, UMKM yang tahun 2009 menyerap 90,9 juta tenaga kerja atau 97,1 persen dari jumlah pekerja di Indonesia dan berkontribusi 55,6 persen atau Rp 2.609 triliun terhadap produk domestik bruto mendapat kucuran kredit perbankan Rp 766,9 triliun, atau 51,34 persen dari total kredit bank. Itu berarti, 0,01 persen pelaku usaha besar mendapat porsi 48,64 persen dari total kredit bank.

Alasan klasik UMKM tidak mampu mengakses dana bank adalah karena tak memenuhi persyaratan. Jika itu alasannya, sampai kapan pun tak akan terselesaikan. Soal agunan, misalnya, sebagian besar UMKM tak akan sanggup memenuhinya karena asetnya tak bakal layak diagunkan. Meski kini ada KUR yang memberi kelonggaran persyaratan, permasalahan belum selesai karena perbankan yang ditunjuk sebagai penyalur tak melakukan ”jemput bola”. Padahal, berapa banyak usaha mikro dan kecil yang ”akrab” dengan sistem perbankan.

Karakteristik UMKM sangat beragam, baik jenis usaha, lingkungan, maupun permasalahannya. Dengan demikian, hampir tak mungkin menerapkan kebijakan nasional pemberdayaan UMKM yang sentralistik, terinci sampai ke tingkat operasional, yang berlaku dari Sabang sampai Merauke.

Di tingkat nasional dibutuhkan komitmen politik, mencakup alokasi anggaran yang memadai di APBN ataupun APBD, cermin dari politik anggaran. Pembuatan peraturan perundang-undangan yang menghilangkan kendala yang dihadapi UMKM, tetapi sekaligus memberi ruang gerak seluas-luasnya serta menyediakan sarana dan prasarana yang membantu UMKM memberdayakan dirinya sendiri.

Komitmen politik atau keberpihakan menjadi kata kunci jika tulus ingin memberdayakan UMKM dan membangun ekonomi kerakyatan. Keberpihakan tak hanya dalam jargon, tetapi dalam kebijakan dan implementasinya, mulai dari pusat hingga daerah.

Perth, Modern Karena Tambang

Ada banyak kenangan saya terhadap kota Perth. Beberapa bulan tinggal disana, sempat merekam banyak kenangan indah dari ibukota Western Australia ini. Tulisan Anastasia yang dibuat Kompas, membuka kembali album2 lama.

Perth tadinya merupakan ibu kota dari negara bagian yang paling terisolasi di Australia. Kini, berkat industri pertambangan yang maju pesat, Perth dapat menjadi kota modern. Angkasa Perth dipenuhi oleh menara-menara pencakar langit dari baja dan kaca. 

Perth telah menemukan dirinya kembali sebagai kota yang makmur karena booming pertambangan di wilayah tersebut. Perth sempat menjadi kota tidak berkembang selama beberapa generasi. Tetapi, belakangan ini stigma tersebut berubah seiring dengan banyaknya gedung tinggi di seantero kota serta jalan-jalan lebar yang memiliki atmosfer metropolis lengkap dengan toko barang mewah, bar, dan restoran. Itulah hasil dari penjualan bijih besi ke Asia, salah satu kawasan pasar terbesar hasil tambang Perth.

”Perth belum pernah mengalami pembangunan sedemikian pesat dalam 20 tahun belakangan ini,” ujar Dewan Properti Australia Barat Damian Stone. ”Perkembangan di Perth sangat dramatis, mencerminkan bagaimana kota yang dinamis ini bertumbuh. Kami sekarang merupakan salah satu kota kelas dunia. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, timbul kepercayaan bahwa kami juga harus berperan dalam pembentukan negara kami,” ujarnya lagi.

Pertambangan merupakan penggerak penting pembangunan di Australia. Wali Kota Perth Lisa Scaffidi yakin bahwa transformasi kota itu tidak terlepas dari sejumlah perusahaan yang secara besar-besaran memperluas dan memperbesar kehadiran mereka di kota tersebut. Dampaknya, pembangunan yang harus dicapai selama 20 tahun ternyata dapat diraih hanya dalam 4 tahun.

”Perth saat ini merupakan kota global yang penting,” kata Wali Kota. Perth juga telah menjadi kota pertambangan. Pada puncak kebangkitan pertambangan di tahun 2007, gaji di Perth naik pesat dengan rata-rata mencapai 69.000 dollar AS. Kenaikan tersebut 70 persen disumbangkan dari kegiatan yang terkait dengan pertambangan.

Saat ini, 20 persen ruang perkantoran di Perth disewa oleh empat perusahaan besar, yaitu raksasa pertambangan BHP Billiton dan Rio Tinto serta produsen minyak dan gas Chevron dan Woodside Petrolium. Semuanya merupakan pemain penting dalam industri sumber daya alam di Australia.

Gedung perkantoran yang menjadi pusat perhatian adalah kantor pusat operasi Australia BHP yang berlantai 46. Gedung itu saat ini masih dalam tahap pembangunan di tengah kawasan bisnis Perth yang sibuk.

Perusahaan pertambangan bijih besi terbesar di dunia itu akan menempati kantor seluas 60.000 meter persegi. Gedung itu juga akan menjadi gedung tertinggi di Perth dengan ketinggian 249 meter. Diharapkan gedung ini akan dapat diselesaikan pada tahun 2012.

Ketika kompleks perkantoran BHP City Square masih dalam tahap pembangunan, ada keyakinan bahwa pembangunan tersebut akan memberikan inspirasi beberapa proyek properti komersial dan ritel seperti toko-toko. Sebelumnya, toko barang mewah tidak dapat ditemukan di jalan-jalan kota Perth. Perkembangan lain adalah semakin menjamurnya bar-bar dan tempat-tempat makan jalan-jalan Perth dalam dua tahun terakhir ini.

Imigran

Juru masak Wayne Willsher membuka restoran Olivernya di kawasan hiburan Northbrigde pada tahun 2008. Willsher adalah imigran dari Essex, Inggris, yang mencoba peruntungan di Perth. ”Saya sebenarnya datang ke sini tidak untuk kaitan bisnis. Tetapi, saya mendapatkan ada jurang di pasar antara restoran yang berada di atas standar Perth. Ini yang belum ada. Mungkin karena peluang inilah saya dapat meraup sukses di sini,” ujarnya.

Meledaknya industri pertambangan di Perth juga memengaruhi berbagai jenis bisnis lain di Perth. Asosiasi Pedagang Ritel Wayne Spencer mengatakan, ”Australia Barat sangat menyadari bahwa industri pertambangan telah mendorong perkembangan negara bagian ini,” katanya. ”Tidak peduli apa jenis pekerjaan Anda, akan terpengaruh oleh industri pertambangan,” katanya lagi.

Populasi Australia Barat naik sebanyak 400.000 orang pada satu dekade terakhir sehingga penduduknya menjadi 2,27 juta orang, tetapi kawasan tersebut juga terus menarik perhatian dari para imigran. Diharapkan, para imigran ini dapat memenuhi pasar tenaga kerja di Australia Barat.

Ekonom dari Kamar Dagang dan Industri John Nicolau mengatakan, upaya untuk membatasi datangnya imigran akan menjadi masalah di negara bagian tersebut di kemudian hari. ”Pada dekade terakhir, porsi ekspor dari Australia Barat naik menjadi 45 persen. Australia Barat adalah pusat pembangunan ekonomi Australia dan inilah saatnya para pengambil keputusan di Canberra untuk memahami hal tersebut,” ujarnya. (AFP)