Pak Fadel Dihabisi Beruang Serakah

Saya tidak ingin ikut2an membicarakan urusan copot mencopot pak Fadel yang masuk ranah politik.  Namun ada satu hal yang patut kita sayangkan, menteri yang punya nyali membela ekonomi kerakyatan, justru malah tersungkur. Silahkan simak tulisan pak Rhenald Kasali dibawah ini. Betapa “beruang-beruang lapar” telah menggilas pak Fadel. Terlalu banyak orang yang takut terganggu “kemapanannya” dengan sepak terjang pak Fadel.  Dan ini juga menunjukkan, perjuangan membela kepentingan rakyat banyak, masih jadi simbol politis semata.  apakah kita akan menyerah? tidak. Pak Fadel boleh tersungkur dari kabinet. tapi semangat dan kerja cerdasnya membela rakyat, tidak boleh kita biarkan habis tertelan waktu. selamat membaca.

================================================

Secara pribadi saya tidak mengenalnya, bahkan bertemu saja baru satu
kali. Itu pun di sebuah forum resmi, dalam diskusi tentang ekonomi
kelautan yang diselenggarakan Radio Smart FM di Medan beberapa bulan lalu.

Namun, sejak Indonesia kehilangan Jusuf Kalla sebagai ”pendobrak” dan
”penggerak” ekonomi yang tidak pernah diam dalam ide, saya menemukan
sosok ”bergerak” pada Fadel Muhammad. Selain tangannya dingin, kakinya
ringan bergerak. Seperti yang sering saya katakan kepada para ekonom
muda, ekonomi Indonesia ini bukannya kereta api otomatis yang cuma butuh
jari untuk dijalankan.

Ekonomi kita adalah sebuah kapal besar yang tak akan bergerak kalau
hanya dipikirkan. Ekonomi kita butuh a real entrepreneur yang piawai
menggerakkan, melakukan breaktrough dan siap berperang melawan para
mafioso. Jadi, pemimpin seperti inilah yang kita butuhkan, bukan harus
dikurangi, tetapi perlu diperbanyak. Sayang kalau kita mengabaikannya.

Berperang Melawan Belenggu

Fadel mengagetkan kita saat dia maju berperang melawan ”beruang-beruang
ekonomi” yang memaksa Indonesia melakukan impor komoditas tradisional
yang banyak dikonsumsi rakyat. ”Beruangberuang” itu tidak hanya
memasukkan barang, melainkan juga menyodorkan data-data yang sudah
dipoles yang seakan- akan kita sudah kekurangan segala komoditas dari
beras, daging sapi,sampai garam, dan bawang merah. Pokoknya semua kurang
dan mengancam inflasi.

Lalu apalagi kalau bukan harus impor? Kita melihat Fadel maju ke depan
membongkar kontainerkontainer berisi ikan kembung yang diselundupkan ke
pasar Indonesia. Bukan cuma ikan kembung. Ternyata ikan lele dari
Malaysia yang sangat mudah dikembangbiakkan di sini juga membanjiri
pasar domestik melalui perbatasan Kalimantan, Pelabuhan Belawan, dan
pelabuhan-pelabuhan penting lainnya.

Dari ikan kembung dia bergerak menyelamatkan industri garam rakyat yang
bertahuntahun digempur para importir bangsa sendiri. Impor-impor seperti
itu jelas sangat berbahaya bagi masa depan bangsa ini.Harga impornya
boleh sangat murah, dipasarkan dengan dumping atau tidak, tetapi
perlahan-lahan mematikan ekonomi rakyat yang tersebar di seluruh pesisir
Nusantara.

Setelah pertanian terpuruk, kini petambak garam pun dibunuh bangsa
sendiri. Fadel-lah yang menuntut agar harga dasar garam rakyat
dinaikkan. ”Kalau petambak hanya menerima Rp325 per kilogram, bagaimana
mereka bisa hidup?”gugatnya.Dia pun mengusulkan agar dinaikkan menjadi
Rp900.Petambak garam tentu senang dan mereka bisa kembali bekerja.

Tetapi kabar itu tak berlangsung lama karena kita mendengar Kementerian
Perdagangan hanya mau menaikkan sampai ke Rp700. Itu pun beredar kabar
ada saja pejabat—yang berdalih atas nama pasar bebas—tak mau tanda
tangan. Petambak bisa jadi senang kepada Fadel, tetapi importir dan
pemberi lisensi impor belum tentu.

Kalau petambak garam dimanjakan Presiden, mereka bisa kembali
menyekolahkan anak-anaknya dan makannya bisa lebih terasa enak.Mereka
akan giat berproduksi dan impor garam akan hilang. Apakah benar inflasi
akan terjadi hanya karena harga garam naik? Beberapa orang meragukannya,
pasalnya harga dari petani yang rendah tidak menjamin harga kepada
konsumen ikut rendah.

Bahkan impor murah sekalipun hanya menjadi alasan bagi importir untuk
menguasai pasar.Harga akhir yang dibayar konsumen pun tetap saja tinggi.
Lantas kalau harga dasar petambak dinaikkan, bagaimana nasib importir?
Tentu mereka tidak tinggal diam. Menteri Perdagangan—atas nama
perjanjian dagang yang dipayungi WTO—dan kita semua yang pernah belajar
teori ekonomi, boleh saja percaya pada kompetisi dan pasar bebas.

Tetapi secara moralitas,tak ada bangsa yang secara tulus dan ikhlas
membuka pasarnya secara bebas,murni 100%. Hanya bangsa yang bodohlah
yang membiarkan pintunya dibuka lebar-lebar dan membiarkan
”beruang-beruang ekonomi” menari-nari memorak- porandakan pasar domestiknya.

Sementara pasar timbal-baliknya dibarikade dengan standar dan
peraturanperaturan yang tidak bisa ditembus. Anda tentu masih ingat
betapa sulitnya produkproduk kelautan kita menembus pasar Amerika dan
Eropa. Ketika Indonesia membuka pasar perbankan begitu leluasa bagi
bank-bank asing,misalnya, Bank Mandiri kesulitan membuka satu saja
cabangnya di Kuala Lumpur.

Apalagi membuka cabang dan jaringan ATM. Di Eropa kita juga melihat
betapa sengitnya bangsa-bangsa yang percaya pada pasar bebas membuka
pasar industri keju lokalnya dari gempuran keju buatan Kraft yang
diproduksi secara massal. Di Amerika Serikat masih dalam ingatan kita
pula, barikade diberikan kepada China saat CNOOC (China National
Offshore Oil Corporation) berencana membeli perusahaan minyak Amerika
(UNOCAL).

Sejumlah anggota kongres menekan Presiden Bush (2005) agar pemerintah
membatalkan proposal China tersebut. Keju,minyak,udang,kopi,kertas,
minyak sawit, atau tekstil sekalipun selalu dihadang masuk kalau
industri suatu bangsa terancam. Jadi apa yang terjadi dengan lisensi
impor di negeri ini? Sebuah keluguan atau kesengajaan? Bisakah kita
memisahkan perdagangan dari pertahanan dan keamanan kalau wujudnya sudah
mengancam kehidupan? Siapa peduli?

Pro-Poor

Maka sangat mengejutkan saat pekan lalu kita membaca Fadel Muhammad
tidak lagi menjalankan tugas negara sebagai menteri kelautan dan
perikanan. Sebagai warga negara kita mungkin terlalu rewel untuk
mempersoalkan pencopotannya sebab semua itu adalah hak Presiden. Tetapi
bagi seorang yang menjalankan misi Presiden yang pro poor–pro growth dan
pro job, saya kira pantas kalau nada sesal layak kita ungkapkan.

Dia justru diganti karena membela kepentingan rakyat, pro-poor.
Ibaratnya dia tengah berada di garis depan melawan ”beruang-beruang
ekonomi” yang hanya memikirkan keuntungan sesaat dengan ”membeli”
lisensi impor yang mematikan hak hidup rakyat jelata. Saya sebut mereka
”beruang ekonomi”karena seperti yang dikatakan Fadel, sesendok garam itu
asin,tapi sekapal garam adalah manis.

Hanya beruanglah yang mampu mengendus rasa manis itu. Tahukah
”beruang-beruang ekonomi”itu bahwa petambakpetambak garam dan nelayan
adalah penjaga perbatasan yang melindungi negeri dari segala serangan.
Apa jadinya negeri ini bila hidup mereka dilupakan?

Bukankah lebih baik menjaga pertahanan perbatasan dengan memberikan
kapal-kapal yang bagus dan pekerjaan yang menarik kepada para nelayan
daripada membeli kapal perang yang tak pernah cukup untuk menjaga
bibir-bibir pantai yang begitu luas?

Maka yang mengejutkan publik sebenarnya adalah mengapa bukan ucapan
terima kasih dan bintang yang disematkan pada Fadel; melainkan
serangkaian ucapan defensif dari kelompok-kelompok tertentu?

Karena itu, melalui tulisan ini, saya justru ingin memberi motivasi yang
tulus agar Fadel Muhammad tidak berhenti sampai di sini,melainkan terus
berkarya bagi kaum papa, petani-petani garam, dan para nelayan yang
”kalah” bukan dari persaingan bebas, melainkan dari ”beruang-beruang
ekonomi”yang menjual negeri melalui lisensi impor.

Seorang pemimpin sejati tidak memimpin hanya karena dipanggil
tugas.Pemimpin sejati bertugas karena panggilan. Saya senang membaca
berita bahwa Fadel telah kembali bekerja dengan Yayasan Garamnya.
Selamat bergabung di sektor ketiga. Inilah sektor kemandirian yang
bekerja murni untuk memberantas kemiskinan.

Inilah sektor non-APBN yang memanggil orang-orang yang mau berjuang
tanpa pamrih. Asosiasi Kewirausahaan Sosial yang saya pimpin tentu
senang menyambut Fadel.Saya percaya Fadel pasti bisa berbuat lebih besar
karena dia punya kekuatan perubahan yang justru tak dimiliki politisi
lain. Simpati besar dari rakyat untuk Fadel layak kita sematkan.

RHENALD KASALI Ketua Program MM UI

About Samsul Hadi

Penggiat UKM

Posted on 27 Oktober 2011, in ekonomi, ICMI, kewirausahaan, Pengentasan Kemiskinan, UMKM and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: