Category Archives: ekonomi

Pak Fadel Dihabisi Beruang Serakah

Saya tidak ingin ikut2an membicarakan urusan copot mencopot pak Fadel yang masuk ranah politik.  Namun ada satu hal yang patut kita sayangkan, menteri yang punya nyali membela ekonomi kerakyatan, justru malah tersungkur. Silahkan simak tulisan pak Rhenald Kasali dibawah ini. Betapa “beruang-beruang lapar” telah menggilas pak Fadel. Terlalu banyak orang yang takut terganggu “kemapanannya” dengan sepak terjang pak Fadel.  Dan ini juga menunjukkan, perjuangan membela kepentingan rakyat banyak, masih jadi simbol politis semata.  apakah kita akan menyerah? tidak. Pak Fadel boleh tersungkur dari kabinet. tapi semangat dan kerja cerdasnya membela rakyat, tidak boleh kita biarkan habis tertelan waktu. selamat membaca.

================================================

Secara pribadi saya tidak mengenalnya, bahkan bertemu saja baru satu
kali. Itu pun di sebuah forum resmi, dalam diskusi tentang ekonomi
kelautan yang diselenggarakan Radio Smart FM di Medan beberapa bulan lalu.

Namun, sejak Indonesia kehilangan Jusuf Kalla sebagai ”pendobrak” dan
”penggerak” ekonomi yang tidak pernah diam dalam ide, saya menemukan
sosok ”bergerak” pada Fadel Muhammad. Selain tangannya dingin, kakinya
ringan bergerak. Seperti yang sering saya katakan kepada para ekonom
muda, ekonomi Indonesia ini bukannya kereta api otomatis yang cuma butuh
jari untuk dijalankan.

Ekonomi kita adalah sebuah kapal besar yang tak akan bergerak kalau
hanya dipikirkan. Ekonomi kita butuh a real entrepreneur yang piawai
menggerakkan, melakukan breaktrough dan siap berperang melawan para
mafioso. Jadi, pemimpin seperti inilah yang kita butuhkan, bukan harus
dikurangi, tetapi perlu diperbanyak. Sayang kalau kita mengabaikannya.

Berperang Melawan Belenggu

Fadel mengagetkan kita saat dia maju berperang melawan ”beruang-beruang
ekonomi” yang memaksa Indonesia melakukan impor komoditas tradisional
yang banyak dikonsumsi rakyat. ”Beruangberuang” itu tidak hanya
memasukkan barang, melainkan juga menyodorkan data-data yang sudah
dipoles yang seakan- akan kita sudah kekurangan segala komoditas dari
beras, daging sapi,sampai garam, dan bawang merah. Pokoknya semua kurang
dan mengancam inflasi.

Lalu apalagi kalau bukan harus impor? Kita melihat Fadel maju ke depan
membongkar kontainerkontainer berisi ikan kembung yang diselundupkan ke
pasar Indonesia. Bukan cuma ikan kembung. Ternyata ikan lele dari
Malaysia yang sangat mudah dikembangbiakkan di sini juga membanjiri
pasar domestik melalui perbatasan Kalimantan, Pelabuhan Belawan, dan
pelabuhan-pelabuhan penting lainnya.

Dari ikan kembung dia bergerak menyelamatkan industri garam rakyat yang
bertahuntahun digempur para importir bangsa sendiri. Impor-impor seperti
itu jelas sangat berbahaya bagi masa depan bangsa ini.Harga impornya
boleh sangat murah, dipasarkan dengan dumping atau tidak, tetapi
perlahan-lahan mematikan ekonomi rakyat yang tersebar di seluruh pesisir
Nusantara.

Setelah pertanian terpuruk, kini petambak garam pun dibunuh bangsa
sendiri. Fadel-lah yang menuntut agar harga dasar garam rakyat
dinaikkan. ”Kalau petambak hanya menerima Rp325 per kilogram, bagaimana
mereka bisa hidup?”gugatnya.Dia pun mengusulkan agar dinaikkan menjadi
Rp900.Petambak garam tentu senang dan mereka bisa kembali bekerja.

Tetapi kabar itu tak berlangsung lama karena kita mendengar Kementerian
Perdagangan hanya mau menaikkan sampai ke Rp700. Itu pun beredar kabar
ada saja pejabat—yang berdalih atas nama pasar bebas—tak mau tanda
tangan. Petambak bisa jadi senang kepada Fadel, tetapi importir dan
pemberi lisensi impor belum tentu.

Kalau petambak garam dimanjakan Presiden, mereka bisa kembali
menyekolahkan anak-anaknya dan makannya bisa lebih terasa enak.Mereka
akan giat berproduksi dan impor garam akan hilang. Apakah benar inflasi
akan terjadi hanya karena harga garam naik? Beberapa orang meragukannya,
pasalnya harga dari petani yang rendah tidak menjamin harga kepada
konsumen ikut rendah.

Bahkan impor murah sekalipun hanya menjadi alasan bagi importir untuk
menguasai pasar.Harga akhir yang dibayar konsumen pun tetap saja tinggi.
Lantas kalau harga dasar petambak dinaikkan, bagaimana nasib importir?
Tentu mereka tidak tinggal diam. Menteri Perdagangan—atas nama
perjanjian dagang yang dipayungi WTO—dan kita semua yang pernah belajar
teori ekonomi, boleh saja percaya pada kompetisi dan pasar bebas.

Tetapi secara moralitas,tak ada bangsa yang secara tulus dan ikhlas
membuka pasarnya secara bebas,murni 100%. Hanya bangsa yang bodohlah
yang membiarkan pintunya dibuka lebar-lebar dan membiarkan
”beruang-beruang ekonomi” menari-nari memorak- porandakan pasar domestiknya.

Sementara pasar timbal-baliknya dibarikade dengan standar dan
peraturanperaturan yang tidak bisa ditembus. Anda tentu masih ingat
betapa sulitnya produkproduk kelautan kita menembus pasar Amerika dan
Eropa. Ketika Indonesia membuka pasar perbankan begitu leluasa bagi
bank-bank asing,misalnya, Bank Mandiri kesulitan membuka satu saja
cabangnya di Kuala Lumpur.

Apalagi membuka cabang dan jaringan ATM. Di Eropa kita juga melihat
betapa sengitnya bangsa-bangsa yang percaya pada pasar bebas membuka
pasar industri keju lokalnya dari gempuran keju buatan Kraft yang
diproduksi secara massal. Di Amerika Serikat masih dalam ingatan kita
pula, barikade diberikan kepada China saat CNOOC (China National
Offshore Oil Corporation) berencana membeli perusahaan minyak Amerika
(UNOCAL).

Sejumlah anggota kongres menekan Presiden Bush (2005) agar pemerintah
membatalkan proposal China tersebut. Keju,minyak,udang,kopi,kertas,
minyak sawit, atau tekstil sekalipun selalu dihadang masuk kalau
industri suatu bangsa terancam. Jadi apa yang terjadi dengan lisensi
impor di negeri ini? Sebuah keluguan atau kesengajaan? Bisakah kita
memisahkan perdagangan dari pertahanan dan keamanan kalau wujudnya sudah
mengancam kehidupan? Siapa peduli?

Pro-Poor

Maka sangat mengejutkan saat pekan lalu kita membaca Fadel Muhammad
tidak lagi menjalankan tugas negara sebagai menteri kelautan dan
perikanan. Sebagai warga negara kita mungkin terlalu rewel untuk
mempersoalkan pencopotannya sebab semua itu adalah hak Presiden. Tetapi
bagi seorang yang menjalankan misi Presiden yang pro poor–pro growth dan
pro job, saya kira pantas kalau nada sesal layak kita ungkapkan.

Dia justru diganti karena membela kepentingan rakyat, pro-poor.
Ibaratnya dia tengah berada di garis depan melawan ”beruang-beruang
ekonomi” yang hanya memikirkan keuntungan sesaat dengan ”membeli”
lisensi impor yang mematikan hak hidup rakyat jelata. Saya sebut mereka
”beruang ekonomi”karena seperti yang dikatakan Fadel, sesendok garam itu
asin,tapi sekapal garam adalah manis.

Hanya beruanglah yang mampu mengendus rasa manis itu. Tahukah
”beruang-beruang ekonomi”itu bahwa petambakpetambak garam dan nelayan
adalah penjaga perbatasan yang melindungi negeri dari segala serangan.
Apa jadinya negeri ini bila hidup mereka dilupakan?

Bukankah lebih baik menjaga pertahanan perbatasan dengan memberikan
kapal-kapal yang bagus dan pekerjaan yang menarik kepada para nelayan
daripada membeli kapal perang yang tak pernah cukup untuk menjaga
bibir-bibir pantai yang begitu luas?

Maka yang mengejutkan publik sebenarnya adalah mengapa bukan ucapan
terima kasih dan bintang yang disematkan pada Fadel; melainkan
serangkaian ucapan defensif dari kelompok-kelompok tertentu?

Karena itu, melalui tulisan ini, saya justru ingin memberi motivasi yang
tulus agar Fadel Muhammad tidak berhenti sampai di sini,melainkan terus
berkarya bagi kaum papa, petani-petani garam, dan para nelayan yang
”kalah” bukan dari persaingan bebas, melainkan dari ”beruang-beruang
ekonomi”yang menjual negeri melalui lisensi impor.

Seorang pemimpin sejati tidak memimpin hanya karena dipanggil
tugas.Pemimpin sejati bertugas karena panggilan. Saya senang membaca
berita bahwa Fadel telah kembali bekerja dengan Yayasan Garamnya.
Selamat bergabung di sektor ketiga. Inilah sektor kemandirian yang
bekerja murni untuk memberantas kemiskinan.

Inilah sektor non-APBN yang memanggil orang-orang yang mau berjuang
tanpa pamrih. Asosiasi Kewirausahaan Sosial yang saya pimpin tentu
senang menyambut Fadel.Saya percaya Fadel pasti bisa berbuat lebih besar
karena dia punya kekuatan perubahan yang justru tak dimiliki politisi
lain. Simpati besar dari rakyat untuk Fadel layak kita sematkan.

RHENALD KASALI Ketua Program MM UI

Iklan

Kepung Wall Street, Merevolusi Ketimpangan Dunia

Revolusi Amerika jilid II tampaknya telah mulai di sulut. Wall Street yang berada di kawasan Manhattan, New York, mulai diguncang demonstrasi besar2an. Wall Street merupakan pusat perdagangan terbesar di dunia, tempat sebagian besar uang di dunia berputar.

Protes warga amerika tersebut disebabkan makin tamak dan congkaknya orang kaya yang jumlahnya kurang dari 1% penduduk dunia. mereka telah menghisap darah kehidupan sebagian besar warga dunia yang hidup dalam kemiskinan dan kelaparan. Gerakan OccupyWallStreet telah mengorganisir gerakan mengepung Wall Street yang telah berlangsung lebih dari satu bulan. dan hingga kini gerakan tersebut telah menular ke hampir 1.000 kota di seluruh dunia.

Tampaknya kesabaran masyarakat sudah mulai habis atas ketimpangan dunia. dan warga Amerika memulai membenahinya melalui revolusi di Wall Street.

2012, UMKM bakal kena pajak hingga 2%

Pajak baru bagi pelaku usaha kecil mikro, kecil dan menengah (UMKM) ditargetkan berlaku awal 2012 menyusul kesepakatan Ditjen Pajak dengan Kementerian Koperasi dan UKM. Peraturan baru itu mengisyaratkan pelaku usaha dengan omzet hingga Rp300 juta per tahun akan dikenakan pajak sebesar 0,5% dari penjualan. Sementara pelaku usaha dengan omzet antara Rp300 juta hingga Rp4,8 miliar akan dikenakan sebesar 2%.

Penerapan ketentuan ini  masih menunggu terbitnya peraturan pemerintah (PP) mengenai pajak UMKM. Karena pajak penghasilan UMKM merupakan pajak tahunan, maka diharapkan bisa  mulai berlaku 1 Januari 2012.

Pemerintah membidik pelaku usaha UMKM untuk membayar pajak lantaran pelaku usaha tersebut menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Meskipun persentase pajaknya kecil, namun jika diakumulasikan akan cukup besar, karena UMKM menyumbang lebih dari 50% terhadap perekonomian nasional.

Namun demikian, ada banyak pe-er yang perlu diselesaikan pemerintah bila ingin ketentuan pajak bagi UMKM ini bisa sukes.

  • sosialisasi harus dilakukan dengan masif, cepat, dan mampu menjangkau semua UMKM yang tersebar di seantero negeri
  • kemudahan dalam pembuatan laporan pajak. prosedurnya juga harus sederhana, tidak berbelit.
  • ada reward bagi UMKM yang mau bayar pajak. hal ini untuk mendorong agar orang jadi tahu, bahwa bayar pajak UMKM dan yang tidak bayar, ada bedanya.
  • melibatkan stakeholder UMKM, agar faktor pajak tidak menjadi penghambat bisnis UMKM.

5 Trik Simpel Mengoptimalkan Bisnis Anda

Kristen Fischer, penulis buku ‘Creatively Self-Employed’, menjabarkan lima cara untuk mengoptimalkan bisnis sesuai dengan business plan yang telah dibuat.

1. Finansial
Setelah mengumpulkan data-data mengenai modal yang dimiliki dan budget yang akan dikeluarkan, Anda harus memperkirakan berapa untung dan rugi yang akan terjadi. Informasi modal, pengeluaran hingga proyek yang akan dilaksanakan memiliki estimasi secara kasar. Akan lebih baik lagi jika Anda memiliki sistem akuntansi yang baik untuk operasi harian dari usaha yang berjalan.

2. Web
Hampir semua bisnis saat ini sudah menggunakan web untuk kelancaran aktivitas. Bahaslah tujuan membuat situs perusahaan dengan para rekan kerja atau ahlinya. Apa yang ingin Anda sampaikan, uang yang harus dikeluarkan untuk membuatnya, hingga sistem pembayaran via online adalah pertanyaan yang harus dijawab oleh diri sendiri. Dengan menetapkan tujuan yang detail, pemasaran pun akan terbantu.

3. Strategi Tim
Dalam sebuah bisnis, diperlukan kerja tim yang terkoordinasi dengan baik. Tiap orang memiliki kewajiban dan tanggung jawabnya masing-masing terhadap pekerjaannya. Masukkan pula target dalam kurun waktu tertentu di tiap departemen agar terlihat aspek mana saja yang sudah berjalan lancar, perlu dikembangkan ataupun perlu perbaikan. Dengan memberikan kesadaran tinggi kepada para staf akan peranan mereka, maka semakin jelas pula rencana untuk mengembangkan perusahaan.

4. Promosi Produk
Ketahuilah dengan baik kelebihan dari produk Anda. Dengan begitu promosi yang dilakukan akan tepat sasaran. Hal yang perlu diperhatikan adalah target pasar, keuntungan yang diberikan produk, hingga kompetisi pasar. Jabarkan dengan detail untuk menentukan cara promosi yang tak hanya benar, namun juga tepat sasaran.

5. Riset market
Lakukan perbandingan dengan produk kompetitor, mulai dari taraf lokal; area, kota, negara hingga internasional. Pelajari apa saja kelebihan yang diberikan sekaligus kekurangannya. Jika ada kompetitor langsung yang menguasai daerah yang sama, tonjolkan kelebihan produk/jasa dengan mempelajari lebih lanjut kecenderungan pembeli. Dengan melakukan hal ini, strategi yang telah dibuat menjadi efektif sesuai rencana awal.

BI Bikin Rating Kredit UMKM

Wacana rating kredit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) akan digulirkan Bank Indonesia (BI). Rating kredit UMKM ini diperlukan agar bank dalam memberikan kredit mengetahui UMKM itu ke saat ini seperti apa, dan juga agar bank juga yakin ke depannya UMKM ini seperti apa.

Rating kredit UMKM ini juga  bertujuan untuk mempercepat proses kredit dan menurunkan biaya transaksi UMKM dalam berhubungan dengan bank. Wacana pemberlakuan rating kredit untuk sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk mendorong intermediasi sehingga nanti bank tidak ragu lagi untuk membiayai sektor ini.

Sejahterakan Rakyat dengan Berwirausaha

Itulah jargon yang diusung pada hari pencanangan Gerakan Nasional Kewirausahaan oleh Menegkop tanggal 2 februari 2011 lalu di SMESCO UKM, Jakarta.

Namun demikian, pencanangan tersebut menyisakan pertanyaan besar akan komitmen dan keberlanjutannya. karena secara kasat mata, event tersebut bernuansa “PENCITRAAN” sesaat. Tidak ada “Road Map” yang jadi pijakan bagi berjalannya sebuah “Gerakan” sebagaimana yang ingin dicapai lewat GKN. Target pencapaian jumlah wirausahaan 2% tidak jelas, karena tanpa diikuti dengan rencana aksi yang terukur.

Lalu? semuanya kembali berpulang kepada pak Menteri Koperasi & UKM sendiri. label sebagai Koordinator Gerakan Kewirausahaan Nasional sudah didapat oleh Kementerian Koperasi & UKM. namun label tersebut tidak akan bermakna sama sekali, bila tidak diikuti dengan upaya sungguh2, terencana, dan berkelanjutan.

Pe-Er yang sudah jelas, menuntaskan program 1.000 Sarjana Wirausaha yang menjadi salah satu program unggulan Menegkop dua tahun terakhir ini. Tunjukkan intervensi apa saja yang telah dilakukan, dan bagaimana hasilnya. Juga, apakah program tersebut sudah mampu menghasilkan Best Practice? bila ya, perlu dilakukan diseminasi secara luas agar bisa ditiru/direplikasi secara luas.

Kalau mau menoleh sedikit ke belakang, dalam konteks kerjasama APEC, Menegkop sebagai wakil pemerintah di APEC SME-Working Group pernah berkomitmen untuk turut meningkatkan kewirausahaan. Semoga GKN yang digagas kali ini juga punya cantolan ke sana. Agar kita tidak dapat sebutan sinis sebagai bangsa pelupa berkomitmen.

Maaf, rakyat sudah lelah dengan model kerja “Hit and Run”, instant, dan lebih berorientasi kepentingan sesaat. Bila tidak ingin disebut sebagai “PEMBOHONG” oleh rakyat, maka inilah saat yang tepat menunjukkan kinerja nyata. raih “hati” koperasi dan UKM dengan prestasi.

Presiden Butuh Dikuliahi, Rakyat Butuh Solusi

[Ternyata, Presiden tidak cukup pede urus negeri ini. Masih butuh dikuliahi Dekan Harvard Kennedy School tentang cara atasi kemiskinan. Maka pantaslah bila saat ini jumlah penduduk miskin meningkat dengan tajam. Walau sudah punya formula triple track+1, namun gamang dalam menjalankannya.]

Ada empat elemen (syarat) untuk penciptaan lapangan kerja dan penghapusan kemiskinan. Hal itu disampaikan Profesor David T Ellwood, Dekan Harvard Kennedy School, dalam Presidential Lecture di Istana Negara, Rabu (15/9) pagi.
Keempat hal tersebut adalah ekonomi yang kuat, keunggulan komparatif jangka panjang, kelembagaan dan pemerintahan yang kuat dan efektif, serta program bagi kaum miskin yang dirancang dengan saksama.

Dalam sambutan pengantar, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan latar belakang, ketika Indonesia melancarkan Revolusi Gelombang Kedua yang ditandai oleh penguatan demokrasi sekarang ini, Indonesia menerapkan strategi tiga jalur (triple track strategy), yaitu pro-pertumbuhan, pro-lapangan kerja, dan pro-pengurangan kemiskinan, dan kini strategi itu bahkan telah dilengkapi dengan jalur keempat, yakni pro-lingkungan.

Kepada Prof Ellwood, Presiden menyampaikan, meski Indonesia terus mengalami pertumbuhan dan melancarkan program meningkatkan kesejahteraan rakyat, pemerintah yang dipimpinnya menginginkan hasil yang lebih besar lagi. Presiden menilai, topik ceramah yang disampaikan Prof Ellwood, yakni ”Menciptakan Pekerjaan, Mengurangi Kemiskinan, dan Memperbaiki Kesejahteraan Rakyat”, relevan dengan persoalan Indonesia.

Ekonomi kuat

Merinci empat syarat yang disebutkan, Ellwood yang dikenal sebagai guru besar ekonomi-politik menegaskan, tanpa pertumbuhan ekonomi yang kuat, mustahil untuk menghapuskan kemiskinan. ”Pertumbuhan kuat hampir selalu membuka jalan bagi turunnya kemiskinan secara tajam,” lanjut Ellwood dalam ceramah yang dipandu oleh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Gita Irawan Wirjawan.

Selain kuat, pertumbuhan yang dimaksud Ellwood—yang pernah ikut dalam Kelompok Kerja Reformasi (Program) Kesejahteraan pada era pemerintahan Presiden Bill Clinton—juga meluas, kondisi yang oleh Presiden Yudhoyono dipertegas menjadi ”merata” (equitable).

Adapun untuk keunggulan komparatif jangka panjang, Ellwood menyebutkan perlunya Indonesia bisa menemukan industri, juga produk, yang punya keunggulan komparatif di perekonomian dunia. ”Ini tantangan yang tidak mudah karena perekonomian dunia terus-menerus berubah dan ekonomi nasional pun harus mampu menyesuaikan diri,” lanjut Ellwood.

Melengkapi paparannya, Ellwood juga menyinggung perlunya keunggulan kompetitif yang mewujud dalam teknologi, keterampilan, dan pendidikan dalam upaya memerangi kemiskinan. Pendidikan, misalnya, merupakan hal vital untuk pembentukan keterampilan dan penyesuaian fleksibel.

Institusi dan pemerintahan

Dalam acara yang terselenggara dengan dukungan Rajawai Foundation ini, Prof Ellwood juga menegaskan sentralnya peranan institusi dan pemerintahan. Untuk institusi, satu hal yang pertama disorot adalah adanya aturan hukum (rule of law) yang bisa dipercaya. Sementara untuk pemerintahan, yang dituntut adalah yang berciri kuat, efisien, dan transparan.

Ciri-ciri yang bisa disimak dari pemerintahan seperti itu antara lain punya daya untuk menstimulasi bisnis dan kompetisi, giat membangun infrastruktur, dan mampu meminimalkan korupsi melalui aksi yang transparan, efisien, dan kredibel. Pemerintahan seperti itu juga stabil, teramalkan (predictable), dan tersambung dengan rakyat.

Dirancang baik

Bagian akhir Presidential Lecture digunakan Ellwood untuk membahas program penanganan kemiskinan. Kuncinya, menurut Ellwood, adalah program tersebut dirancang dengan saksama (thoughtfully constructed). Hal itu, menurut Ellwood, diwujudkan dengan adanya lebih banyak program jangka panjang dibandingkan dengan program berjangka pendek.

”Semata memberikan dukungan tunai atau menyediakan makanan gratis atau bersubsidi, sedikit saja bisa membantu menghapuskan sebab-sebab riil kemiskinan,” kata Ellwood.

Situasi yang menurut Ellwood harus ditangani dengan penyediaan pekerjaan ini perlu ditangani segera tanpa ditunda- tunda karena bertindak sekarang daripada nanti bisa mengurangi secara signifikan ongkos dan impak masalah.

Di tengah persoalan kemiskinan yang ada, Ellwood mengingatkan pula tentang sejumlah fenomena yang dihadapi dunia sekarang ini, mulai dari perubahan iklim, perubahan demografik, bencana alam, bencana buatan manusia, pandemi, hingga (kelangkaan) air.

Dalam kompleksitas persoalan itu, akhirnya Ellwood menunjuk satu faktor penting, yakni upaya penciptaan lapangan kerja dan penghapusan kemiskinan yang sangat ditentukan oleh kepemimpinan, yang dianggapnya merupakan elemen yang paling penting. Adapun tipe kepemimpinan yang dibutuhkan di sini adalah yang berciri ”bijaksana, efektif, berdaya, dan penuh inspirasi”.

Ceramah Prof Ellwood mendapat tanggapan dan pertanyaan dari hadirin, seperti Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Emil Salim, dan Ke- tua Komite Inovasi Nasional Zuhal.

Presiden sendiri ketika memberikan kesimpulan mengatakan, bagi negara berkembang seperti Indonesia, kalau ada strategi besar dalam pembangunannya, tidak bisa lain itu harus pembangunan berkelanjutan. Sementara untuk memerangi kemiskinan, orientasi yang dipilih adalah ”bekerja dan mendapat gaji” (work and pay) untuk menopang kebutuhan hidupnya, tidak semata-mata mengandalkan bantuan tunai dan subsidi pangan.

Sumber;http://cetak.kompas.com/read/2010/09/16/04135767/4.syarat.hapus.kemiskinan

Lebaran, Tidak Untuk Semua Orang

Di pojok perempatan jalan Diponegoro kota Bojonegoro, seorang ibu berumur lebih dari 55 tahun tengah berjualan ketan serabi. disela-sela melayani pembeli, dan sesekali menyeka muka karena pedih asap kayu bakar, keluarlah dari mulut si ibu ini serentetan kalimat yang menyentak:

“hidup semakin susah. hasil penjualan kemarin, tidak cukup untuk kulakan hari ini. harga2 terus membumbung, tak terkendali. apa daya saya? cuma jualan ini yang saya bisa. tapi kalau tidak menghasilkan apa2,  bagaimana saya bisa bertahan?”

Jerit tangis si kecil, hanya beberapa hari menjelang lebaran Idul Fitri. operasi pasar yang dilakukan pemerintah, ternyata tidak menjangkau penjual ketan serabi ini. Duh, ternyata tidak semua orang bisa rayakan lebaran kali ini.

Lakon Sri Minggat

Tak terbantahkan, 6 bulan terakhir kita telah dibuat haru biru segala hal yang berbau Century. Dan salah satu aktor utama yang jadi bidikan banyak pihak adalah Menteri Keuangan hebat, Sri Mulyani. Kecurigaan beberapa pihak terhadap peran Sri dalam mendukung salah satu partai dengan skenario penggelontoran “uang haram” melalui Bank Century menjadi sebab musababnya.

Lakon Sri bulan mei ini tampaknya telah mencapai klimaks. Hal itu ditandai dengan pengunduran diri Sri Mulyani sebagai menteri keuangan kepada Presiden, dengan alasan akan menduduki salah satu jabatan penting di World Bank. Persetujuan Presiden yang turun sangat cepat, juga menambah “warna” lakon Sri. Beberapa pihak menengarai pihak istana terlibat dalam skenario “penyingkiran Sri” untuk keselamatan bersama. Hal itu tidak pernah ada bukti yang menguatkannya. namun yang namanya rumor, apalagi rumor politik, ya terus saja tetap bergentayangan tanpa pernah bisa dikendalikan.

“Tego Lorone ora Tego Patine”, sebuah kata pas yang menggambarkan suasana batin orang2 yang selama ini menghujat Sri, ketika mereka tahu bahwa Sri akhirnya di”Washington”kan. simpati bermunculan dimana-mana, bahkan hal itu berasal dari mereka yang selama ini vokal menghantam Sri setiap hari. Menjelang keberangkatan Sri Mulyani menempati pos baru di World Bank awal juni ini, berbagai kegiatan perpisahan terus dilakukan. Semakin terlihat, ternyata begitu banyak orang yang mencintai Sri. Kerja kerasnya dalam mereformasi birokrasi (khususnya di departemen keuangan), telah membuat banyak orang memberi apresiasi.

Keputusan telah dibuat. Dan Sri pasti Minggat (dengan berbagai persepsi dan dengan meninggalkan untold story). Sebuah koran Singapura membuat berita yang memerahkan telinga: World Bank 1, Indonesia 0. itu menggambarkan bahwa kita sangat dirugikan oleh kepergian Sri Mulyani. Sebagai figur hebat dan telah teruji, serta memperoleh penghargaan sebagai salah satu menteri keuangan bepengaruh di dunia, melepaskan Sri begitu saja rasanya patut disayangkan.

Sebagai profesional, Sri Mulyani sangat sukses menjalankan tugasnya sebagai menteri. Namun, itu saja ternyata tidak cukup. Yang terlupakan adalah bahwa menteri adalah jabatan politis, dan Sri Mulyani gagal mengelola stakeholder perpolitikan nasional. kekecewaan mereka terhadap sepak terjang Sri Mulyani telah berubah tindakan beringas asal gusur, asal Sri pergi, asal Sri mengundurkan diri, asal Sri Minggat.

Lagu “Leaving on a jet plane” menggambarkan dengan tepat kepergian Sri. “So kiss me and smile for me, tell me that you wait for, hold me like you never let me go… I’m leaving on a jet plane, I don’t know when I’ll be back again, of babe i hate to go…”.  Selamat jalan Bu Ani. selamat belajar sampai tuntas tentang kapitalisme tepat di jantungnya, World Bank. Temukan titik lemah neoliberalisme yang nyata-nyata membuat banyak negara semakin miskin. Dan, semoga balik lagi di tahun 2014 untuk memimpin negeri ini dengan membawa paradigma baru pembangunan bangsa bersendikan kerakyatan untuk kesejahteraan bersama.